
Sebuah anak panah membelah halaman itu dari atas sampai bawah — bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai tulang punggung. Ujung nock-nya muncul persis di celah antara sapaan dan ajakan, dan mata panahnya baru sampai di tepi layar ketika pembaca tiba di dasar halaman; ia bergerak sedikit lebih lambat dari gulirannya, sengaja, supaya terasa disusuri dan bukan dilewati. Anak panah itu sendiri adalah janji terhadap adab sekaligus pengingat: apa yang sudah meluncur, entah ucapan atau perbuatan, hampir mustahil ditarik kembali. Di latarnya, tujuh belas bulir cahaya naik perlahan seperti debu yang tertangkap sinar di ruangan sepi — tujuh belas, sejumlah rakaat shalat wajib dalam sehari, dengan harapan semuanya diterima oleh Allah.
Yang lebih sulit justru menahan diri, sebab klub ini berpegang pada satu hal yang jelas: adab lebih dahulu daripada teknik, dan hasil, mengenai sasaran atau tidak, sepenuhnya ketetapan-Nya — dan itu tidak bisa cuma ditulis di satu paragraf lalu dikhianati oleh seluruh sisa halaman. Maka tidak ada testimoni, tidak ada angka capaian, tidak ada satu pun kalimat yang mendesak; tombol WhatsApp yang semula ada di bar atas pun saya hapus. Halaman ini akhirnya jadi latihan yang mirip dengan apa yang dilatih di ruang panahannya sendiri: persiapan dimaksimalkan, selebihnya diserahkan.