
Masjid Istiqlal memberikan kesan berbeda-beda untuk setiap orang yang pernah ke sana. Bagi saya, adalah memori terkuat dengan Masjid ini adalah saat Ayah mengajak I’tikaf di bulan Ramadhan. Tidak satu-dua kali saya diajak oleh Ayah untuk ikut beri’tikaf. Untuk usia saya yang saat itu sekitar 10 tahunan, ikut orang dewasa melakukan aktifitas duduk berlama-lama di Masjid, sangat sangat membosankan. Dan sepertinya, Ayah juga memahami itu. Maka saya dibolehkan ‘berpetualang’ sendiri menjelajah Masjid Istiqlal yang memiliki 5 lantai dengan luas area lebih dari 9 hektar dan luas bangunan 80.948 m2 dengan syarat: “Nanti shalat jangan terlambat. Dan setelah shalat, kita ketemu di tiang ini. Kalau saya belum datang, tetap di situ, tunggu sampai datang, jam berapapun saya akan datang, insyaAllah.” sambil menunjuk salah satu tiang yang disepakati. Dan benar saja, berulangkali setelah shalat, kami selalu bertemu di tempat yang di sepakati.
Suatu kali pada I’tikaf berikutnya. Seperti biasa, sebelum memulai program I’tikafnya, kita menyepakati tiang tempat bertemu setelah shalat. Ayah I’tikaf, sayapun nge-bolang ke lantai atas, area parkir, halaman depan, tempat wudhu, sesuka kaki saya. Adzan Dzuhur berkumandang, waktu shalat tiba. Setelah wudhu dan menuju ruang utama shalat, saya lihat Ayah berada 1 shaf di belakang saya. Bukan di belakang persis, agak jauh, tapi masih terlihat. Setelah shalat berjamaah usai, dan setelah shalat ba’diyah, saya lihat beliau sedang asyik ngobrol dengan seseorang, mungkin kenalan atau kawan lama. Sambil berjalan menuju tiang tempat janjian itu, saya bergumam, “Nggak usah ganggu ah, nanti juga ketemu di tiang itu.”
Ternyata hari itu, lama sekali saya menunggu di tiang yang ditunjuk, bahkan saya sempat berfikir “Wah, jangan-jangan ditinggal pulang nih.” Sampai terlintas macam-macam keadaan di kepala saya (maaf, Ayah). Saya coba untuk mendatangi tempat Ayah terlihat terakhir tadi. Mungkin karena panik, ditambah lagi dengan banyaknya orang di sana, semakin sulit bagi saya untuk menemukan Ayah. Sambil berifikir, “Terus gi mana nih?” sambil berjalan ke tiang yang disepakati, sesuai SOP “tunggu sampai datang, jam berapapun saya akan datang, insyaAllah”, saya yakin, insyaaAllah saya tidak akan ditinggalkan. Jadi saya lanjutkan menunggu Ayah sambil berbaring tidur-tiduran.
Setelah lebih dari 1 jam menunggu, Ayah datang dengan senyum dan bilang, “Maaf ya tadi keenakan ngobrol. Maaf. Hehe, tapi kamu masih di sini? Nggak coba cari saya? Kalau ternyata Ayah lupa, lalu langsung pulang gimana? Kamu tetap nunggu di sini?” Saya menjawab dengan mengangguk dan senyum tipis. Ayah tertawa terbahak-bahak.
Ya, saya akan tetap menunggu di tiang itu, karena saya tahu Ayah saya adalah “Man of his words”.
*Al-Faatihah untuk Ayah